Guru Murtad

Seperjalanan dengannya menggunakan kereta Roda Besi dari Gubeng menuju Lempuyangan, sungguh sensasi luar biasa. Sensasi itu melebihi klimaks tiga kali di Kompleks Doli atau bahkan duduk tafakur di malam hari yang sudah jarang kulakukan. Gulat emosiku saat itu sulit untuk mencari tandingan dengan peristiwa lainnya.

Kemampuan memotret keadaan si Medi Sungguh luar biasa. Bukan sekedar memotret dengan kamera analog butut yang sudah lama terjual untuk beli tempe yang habis dikrokoti anak ragilnya sebelum sempat naik ke penggorengan. Dengan rangkaian kalimat kaya kata dan kaya bahasa, Medi membidik inci demi inci tubuh wanita cantik ‘berkatok mlorot’ disebelahku. Setiap lalu lalang orang, pedagang brisik, tukang sapu, pengamen tak bersuara, sampah, putung rokok, bau pesing WC kereta dicangkingnya dengan rinci. Tak ada yang tertinggal satupun dari pengamatan Medi. Jadilah lukisan / potret sempurna, gado-gado rasa aneh yang diracik oleh Medi Abdullah. Orang menyebutnya ini puisi. Saya tidak terlalu berani gegabah untuk menggolongkan ini sebagai puisi. Saya yakin wadah puisi tidak akan cukup untuk menampung tumpah ruahnya aliran kata dari Medi.

Aplous penonton di acara Mocopat Sholawat 22 Oktober 2009 begitu antusias.  Menyaksikan, mendengar celoteh pisuhan, tangisan, keluhan, kegelisahan, kejenakaan Medi. Aplous itu melebihi keramaian Sarkem dan Kermil bahkan Doli dipuncak arus pengunjung, yang jelas bukan pada bulan suci.

Eufaria penonton begitu berasa hingga kubawa pulang dan tak ingin kulupa hingga kujadikan secuil celoteh ini.

Shalom Mr. Medi

Sungguh aku tak pernah akan sanggup untuk ikut mancal becakmu.

Bahkan untuk hanya ‘ngrewangi nyurung’ dari belakang menggunakan motor apikku, aku tak bisa.

Aku mungkin hanya bisa menemanimu menempuh itu.

Atau ah bukan,…. Bukan

menemanimu saja aku tak sanggup.

Aku hanya menikmati menjadi salah satu penumpang becakmu.

Ya aku sungguh sangat menikmati menjadi salah satu mahluk yang pernah duduk diatas jok empuk becakmu..

Suwun Cak Medi.

Agung TL

Agung Trilaksono

Mantan Guru..

Ia tidak betah jadi Guru karena Kakehen petengsenya dunia Pendidikan di Tanah Air..

Ia lebih suka menjadi Tukang Rombeng Komputer…

Dan Tukang Orak-arik Website..

Katanya:

“Menjadi Guru / Pekerja apalagi Pegawai Negeri itu haram hukumnya.. atau paling tidak itu selemah-lemahnya iman. Namun ini tidak hanya berlaku untuk diriku tidak untuk orang lain lho…”

Wiraswasta / Pengusaha adalah orang yang merdeka dari penjajahan waktu dan semoga materi.. itu kalau kita punya kemampuan untuk mengendalikan..

Artinya; semua bisa dirubah menjadi nilai fungsi bukan sekedar nilai harga jual.