PROFIL

Urip

Urip

MEDDY ABDULLAH


Terlahir sebagai lelaki paro abad lebih setahun. Keluar dari rahim ibunda tercinta, oleh kehendak Illahi Robbi, lewat kejantanan ayahanda terkasih.

Lantas diusia 5 tahun mengenyam edukasi TK.

Berlanjut 7 tahun di SD (setahun tak naik kelas, 3 ke 4).

Tambah 3 tahun di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama)

3 tahun lagi menimba ilmu di SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) tanpa ijazah, sebab sehari sebelum ujian memaksakan diri keluar oleh karena tiada biaya buat bayar administrasinya.

Kukenal kenikmatan makan jajan dengan uang keringat sendiri ketika kelas 5 SD berjualan es lilin/ganepo keliling kampung.

Saat di bangku SMEP aku melayani tetangga yang butuh air bersih (PDAM) dengan jalan memasang rengkek di belakang sepeda kebo. Rengkek itu buat wadah 2 blek ukuran masing-masing 17 liter air.

Selanjutnya memasuki dunia kerja baru sebagai pembantu tukang batu (kuli bangunan). Pernah juga bekerja mengantar makanan dalam rantang kesetiap pelanggan catering dimana aku kerja. Lantas ikut di sebuah produk cat tembok dan kayu sebagai tukang cat pada perumahan baru.

Dan profesi yang paling lama (hingga lebih 2 dekade) adalah menjadi tukang foto keliling yang juga menerima order pemotretan pada even yang membutuhkan dokumentasi foto.

Sedangkan proses  sebagai fotografer ini berangkat dari sebuah kegagalan, yakni sewaktu remaja aku active di sebuah komunitas karang taruna yang kebetulan pada saat itu mengadakan acara kartinian. Aku kebagian seksi PUBDOC (publikasi dan dokumentasi) singkat cerita setelah film dalam rol habis kubuka jendela belakang camera di bawah sinar bolam (karna malu bertanya sesat di jalan padahal aku masih gaptek dengan tustel manual) wal hasil seusai diproses cuci cetak tidak sedikit hasil pemotretan yang terbakar.

Namun beberapa bulan kemudian aku masih dipercaya untuk mengabadikan moment lagi, yakni pada acara silaturrohmi LKMD kelurahan. Dari situ aku benar-benar konsen ikut treaning singkat teknik pemotretan (memasang dan menggulung film) oleh tetangga sendiri yang kebetulan wartawan foto sebuah Koran.

Dan alhamdulillah, hasilnya mulus bahkan kucoba bandingkan dengan foto komersil, baik yang motret di tukang foto keliling maupun hasil foto studio tidak kalah mutunya. Dari situ kutrawang ke depan bahwasannya akupun bisa cari duit dari memotret. Lalu ku lobi wartawan yang membekali ilmu tadi bila mungkin punya kamera dan blitz lebih yang tidak dipakai akan aku sewa. Tapi diluar dugaan beliaunya meminjami secara Cuma-Cuma . dan sejak saat itu aku bertitle “Mad Kodak” sambil berusaha menabung untuk kemudian punya kamera sendiri.

Rupanya pasang surut dibelantara usaha jual jasa melanda pula pada profesi tukang foto walau segala inovasi sudah kucoba diantaranya keliling foto sambil membawa busana karnafal anak-anak .

Sehingga disaat tukar pendapat di rumah kawan, ketika aku mampir sambil keliling foto dia menawari jikalau aku bermental kebo (baja / tidak malu-malu) silahkan bawa armada 3 rodaku.

Maka tepat hari lebaran setelah maghrib kutraining diri sendiri untuk mengemudikan becak dengan penumpang istri tercinta berikut ke empat mutiara kasih kami. “tibae aku isok mbecak, dek.?…….tapi yo opo…..opo sampean gak isin, nek aku dadhi tukang mbecak?”

oalah, mas…..seng penting halal dipangan, yo wareg, athek isok dadhi daging.”

Puji syukur ke hadiratMu Ya Allah, kau beri jodoh daku seorang perempuan yang faham perputaran alam.

Dan beratambahlah “Gelar Kehormatanku” menjadi “pilot kendaraan lintas sektoral

Jadi kini statusku sebagai pekerja serabutan yakni: motret-mbecak-bikin relief (taman kering dan taman basah)- menanam dan menata perdu halaman rumah- membuat dekorasi pentas seni dan beberapanya yang lain.